|
Surat Terbuka Ruhul Kudus untuk Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono
Atas Nama Tuhan Yang Maha Kasih dan Penyayang
Aku, Jibril Ruhul Kudus, kembali mengirim surat kepada Paduka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Adapun suratku ini menjadi pengantar pemberitahuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang segera menegakkan Kerajaan-Nya di negeri ini. Daripadanya, Dia tak lagi bersedia terundurkan hanya karena kami telah dianggap tidak benar dan mengada-ada. Oleh karena itu, kami menjelaskan bahwa dengan adanya keadaan tersebut di atas, maka perubahan yang dikehendaki Allah Subhanahu Wa Ta’ala tak akan lagi bergantung kepada Paduka Presiden dan bangsa Indonesia. Maka tibalah saatnya Tuhan mengeraskan tekanan-Nya, yaitu melalui penyakit kutukan, penyakit gatal yang akut dan ganas yang tertuju kepada semua yang dianggap tak menyetujui adanya Kerajaan Tuhan.
Karena penyakit itu bukan berasal dari serangan virus, melainkan kutukan Tuhan secara langsung, penyakit itu berada dalam kategori keridhaan Allah atau kekesalan-Nya. Lebih ringan bila orang tak melakukan pengutukan dan tak pernah ikut menzalimi, sebaik mereka hanya menjalankan tugasnya memenjarakan Utusan Tuhan. Dan menjadi buruk penyakitnya bila menimpa orang yang berkewenangan dan tahu masalah serta terlibat dalam kesengajaan pemenjaraan terhadap Rasul-Nya.
Dan yang terburuk keadaan penyakitnya adalah pejabat yang berkewenangan mengadili dan yang memenjarakannya dengan sengaja demi memenangkan keyakinannya sendiri dan mengabaikan prinsip keadilan dan kebenaran hakiki, dan terhadap orang-orang yang membuat laporan dan saksi-saksi yang memberatkan dan melawan Ruhul Kudus dan Firman Allah.
Semua orang yang telah terlibat dalam pemenjaraan Rasul Tuhan terpilah kutukannya, tersesuaikan oleh kewenangan dan sikap masing-masing terhadap Utusan-Nya. Kecuali yang memiliki kewenangan langsung dan yang memberikan ketetapan hukum, mereka bukanlah termasuk orang-orang yang tertolong. Dan mereka dapat disembuhkan bila mau mengubah sikap dan membantu tegaknya Kerajaan Tuhan. Dan akan menjadi kutukan yang seksama bila memusuhi atau menjahili Komunitas Eden setelah pemberitahuanku ini.
Pemberitahuanku ini sengaja kami layangkan kepada Paduka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berkuasa atas negeri dan Pemerintah Indonesia. Karena kepada Anda-lah tanggung jawab segenap urusan bangsa. Oleh karenanya, kepada Anda-lah kekuasaan yang tertinggi yang dapat mengubah keputusan peradilan yang salah. Dan sekaligus juga kepada Paduka Presiden-lah keselamatan bangsa Indonesia yang sedang menuju pembinasaannya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketentuan Tuhan ini berlaku bagi semua bangsa-bangsa di dunia karena Kerajaan Tuhan harus diakui oleh seluruh bangsa-bangsa. Oleh karena itu, untuk setiap penolakan atas Kerajaan-Nya dari manapun di dunia ini, berlaku ketentuan yang sama di seluruh dunia. Maka gaung penyakit itu akan keras sekali mendunia, padahal penyakit itu tak mungkin dapat disembuhkan oleh obat-obatan dan dengan cara apapun. Keganasan penyakit tersebut sangat mengganggu dan menyakitkan karena seluruh badan tersiksa dan takkan terhenti, kecuali kehendak Tuhan diterima, Kerajaan Eden diakui.
Sesungguhnya Tuhan tak menginginkan cara seperti ini. Akan tetapi, telah kedapatan Pemerintah Indonesia sama sekali tak mengindahkan risalah-risalah kami, sekeras apapun ancaman Tuhan di dalamnya. Padahal substansi Kerajaan Tuhan harus segera diakui dan disahkan oleh bangsa Indonesia, supaya tegak perdamaian dunia. Apakah keinginan Allah ini buruk bagi Indonesia bilamana semua negara di dunia ini sebenarnya sangat berharap perdamaian? Maka jangan lagi menolak mukjizat dan kekeramatan Kerajaan Tuhan.
Tuhan sudah menghapuskan agama Islam sebagai akibatnya. Dan Tuhan pun sudah mengepungkan bencana di segala penjuru negeri ini. Bahkan kami sudah mengancamkan gempa dahsyat berkekuatan 9 pada skala Richter dan gelombang tsunami yang akan membelah tanah Jawa. Begitu pun luapan lumpur di Sidoarjo Jawa Timur yang tak dapat dihentikan dengan cara apapun dan akan menenggelamkan wilayah itu. Bukankah saat ini tanda-tanda itu sudah membuktikan ancaman kami adalah benar? Walaupun demikian, semua itu hanya berlalu sebagai ancaman sepihak. Ancaman Tuhan sama sekali tak ditakuti. Sedemikianlah kiranya pandangan Tuhan terhadap penolakan Kerajaan-Nya oleh pemerintah dan bangsa Indonesia.
Kami pun telah menyurati Paduka Presiden agar berkenan membebaskan Lia Eden dan Muhammad Abdul Rachman. Akan tetapi tertanggal 23 Agustus 2006, ternyata Muhammad Abdul Rachman tetap dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum selama 5 tahun penjara. Padahal tak ada kesalahan dan pelanggaran hukum yang pernah dilakukannya. Begitupun tak ada iktikad untuk membebaskannya dari pemerintah, padahal aku pun sudah memohon kepada Paduka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar bersedia mengulurkan tangannya untuk membantu pembebasan Lia Eden dan Muhammad Abdul Rachman melalui surat tertanggal 14 Agustus 2006.
Begitulah, kini kutukan Tuhan tertuju langsung kepada Paduka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan kepada semua yang berkewenangan yang tak bersedia membebaskan Lia Eden dan Muhammad Abdul Rachman. Semuanya akan mendapati dirinya mengalami penyakit gatal yang sangat buruk keadaannya dan yang tak ada obatnya. Semoga ini menjadi pengajaran bagi seluruh pemimpin negara di dunia ini agar tak mengalami pengutukan seperti yang dialami bangsa Indonesia dan pemimpinnya.
Jadilah patuh padaku karena aku adalah Hakim Allah di Mahkamah-Nya dan Raja di Kerajaan Eden milik-Nya. Aku pembela kebenaran dan keadilan yang sejati. Tuhan adalah Rajaku dan Pelindungku yang senantiasa menyertaiku. Akulah penyelenggara Amanat-amanat-Nya dan Perintah-Nya. Jangan jauhi aku karena aku adalah Perintah Tuhan yang penuh rahmat dan bermukjizat.
Penuhi permintaanku. Bebaskan Lia Eden dan Muhammad Abdul Rachman, dan aku akan berterima kasih. Atas perhatian Paduka Presiden terhadap Surat Terbuka kami ini, sungguh akan kubalas dengan kebaikan. Amin. Jakarta, 6 September 2006
 Jbril Ruhul Kudus |