|
Sebagai hakim-Ku, hendaklah kamu mencari data yang nyata sebelum kamu beranggapan. Karena sesungguhnya setiap kalimatmu, setiap yang kau pikirkan, hanya satu arahnya yang dituju, ialah kebenaran sejati. Maka jangan kau mempraduga.
Lebih baik kau hentikan pemikiran itu sebelum kau melanjutkannya. Biarlah kamu tahu. Dan setelah kamu tahu, barulah kau beranjak menyatakan apa-apa yang harus kau tuliskan atau apa-apa yang harus kau nyatakan.
(Paduka Bunda: Amin, ya Allah. Ampuni hamba, ya Allah)
Di dalam niatmu tak ada niat yang salah, apa-lagi niat yang buruk. Tiadalah kamu bersalah melainkan itu pembahasan dalam pikiranmu.
(Paduka Bunda: Amin, ya Allah)
Dialah yang bersalah, Aar Sumardiono yang mempermainkan Eden dan dirimu. Sesungguhnya dia tak patut melakukan hal itu walaupun alasannya adalah untuk mengungkap pemikiran-pemikiran orang lain. Sesungguhnya bila dia menginginkan mengungkap pikiran orang lain, wajib baginya mempertanyakannya secara langsung, tidak mengelabukan namanya karena sesungguhnya itu bukanlah sifat ksatria dan bukanlah kejujuran.
Sungguh kaum di Surga terlarang melakukan pengelabuan semacam itu, betapa niat di baliknya adalah baik. Namun bila itu untuk mendustakan Ruhul Kudus, menyanggah dan di dalam kalimat-kalimatnya, kalimat itu tidak luhur, melainkan hujatan, sungguh cara itu tak Kusukai.
Bertaubatlah kau, wahai Aar Sumardiono, karena sesungguhnya jalan yang kau pakai itu salah. Dan tiadalah Aku menyukai cara itu.
Benarkanlah yang benar, salahkan yang salah. Namun bila pengelabuan nama, itu adalah cara yang tidak ksatria dan tidak jujur. Dan bila kau pakai untuk menghujat Ruhul Kudus, maka sungguh berdosalah kamu terhadapnya. Dan tiadalah kau taat kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku karena sesungguhnya itu sama saja dengan menikam dari bawah. Tiadalah kamu patut melakukan itu sedangkan kau dimuliakan tempatmu di Eden, sedangkan kamu dicintai olehnya.
Pemikiran-pemikiran yang tak terjawab dapat diluruhkan melalui diri sendiri. Carilah jawabanmu dari logikamu dan Kami membantumu. Jangan pikiran-pikiranmu kau ajukan dengan cara semacam itu karena tiadalah kamu menjadi pahlawan bagi para pengingkar. Apakah itu yang kau inginkan, menjadi petunjuk jalan bagi orang-orang pengingkar terhadap Kami? Dan kamu bukanlah salah satu di antara mereka.
Janganlah berpura-pura jadi pengingkar untuk mendatangkan penjelasan yang benar dari Kami. Jadilah sebagai ksatria yang luhur, jujur, lugas dan bertanggung jawab atas setiap sikap dan ucapan-ucapanmu karena sesungguhnya kau telah bersumpah kepada Kami. Dan tiadalah itu yang sudah kau kerjakan melainkan kesalahan belaka.
(Paduka Bunda: Amin, ya Allah)
Mahoni, 13 November 2004 – Pukul: 15.53
|